Pengikut

Minggu, 16 Juni 2013

MEMELUK MALAIKAT


Mentari masih sembunyi ketika aku hendak keluar , sambil sedikit mendengar senandung angin aku mencoba untuk tetap menjajakan kaki ke pasar tradisional bernama malioboro yang biasa aku datangi, kali ini mungkin akan ada yang ingin mengabadikan sesuatu dalam bentuk lukisan, atau sepasang kekasih yang ingin dilukis sketsa wajahnya, atau mungkin juga ada seorang pecinta seni yang kebetulan lewat dan kepincut lukisan-lukisanku kemudian dengan senang hati memboyong salah satu lukisanku.
*hidup berawal dari nol kembali ketika kamu rampung dalam studimu.
Benar yang dikatakan oleh dosenku itu, tak peduli sepandai apa kamu di dalam duniamu, nyatanya dunia punya kriteria sendiri dalam memilih manusia yang mampu tetap hidup dan bersinar, bukan cuma di dunianya tapi di dunia yang universal yang senantiasa mempermainkanmu. Mereka yang mampu meladeni permainan dunia dengan cantik, maka merekalah yang patut duduk manis di pangkuannya. Dulu aku hanya seorang siswi Sekolah Dasar ketika sebuah lagu dari Iwan Fals terdengar dari radio butut milik simbahku, ketika itu aku mendengarkan sebuah lagu berjudul NAK.
jauh jalan yang harus kau tempuh
mungkin samar bahkan mungkin gelap
kerikil tajam setiap saat menunggu
engkau lewat dengan kaki tak bersepatu.
Aku hanya bernyanyi tanpa berpikir, aku tak peduli apa lirik yang disampaikan oleh si penyanyi, yang penting hepi. Aku berumur 10 tahun kala itu, ketika aku tengah bernyanyi lagu itu, sambil bermain gobak sodor dengan temanku yang lain, simbahku keluar dan berteriak “nanti kalau besar, kamu pasti mengerti betapa benarnya lagu ini!” teriaknya. Sementara aku hanya tersenyum bingung tak mengerti kata-kata simbahku itu. Ah..simbahku paling top deh, aku akhirnya tahu, kenapa banyak yang gandrung pada penyanyi yang dulunya adalah bekas seorang pengamen jalanan itu.
Kali ini aku memamerkan sebuah photo berlatarkan ilalang yang sempat aku rampungkan semalaman, dengan sepasang anak kecil yang tengah di liputi tawa bahagia, saling berhamburan mengejar kupu-kupu yang menari dengan anggunnya. Aku sematkan sebuah tema di belakang lukisanku itu, faradise..sebuah kata yang mungkin terdengar sepele, tapi mengandung arti yang ah..tergantung si tuannya sajalah yang menilai hihiii. Aku berharap akan datang seorang seniman yang naksir lukisanku ini, dan bertanya kepadaku apakah tema dari lukisanku ini, ah..aku rasa aku tak sanggup lagi menahan jeritan YEAY..!!! dan menari ala taun 60 an sambil di iringi musik terorejing..terorejing khas buatan simbahku kalau-kalau ia sedang senang bukan kepayang. “gila!!!” pikirku, aku sudah bukan anak usia dini lagi, aku seorang perempuan dewasa usia 22an yang baru terlahir kembali ke dunia yang baru, dunia yang congkak, dunia yang pemilih, dan aku baru saja menyelesaikan studiku di universitas negeri di Jakarta dengan memboyong beberapa huruf untuk embel-embel di belakang namaku. Ah..aku ini terlalu tua untuk bertingkah impulsif dan berimaji layaknya bocah paud.
Kulemparkan beberapa senyum pada mereka yang lewat, siapa saja. Alhamarhum simbahku (astaga, aku menyebutnya lagi) berkata, sodakoh yang paling gampang adalah senyum, pahala yang paling mudah dilakukan adalah tersenyum. Oh..betapa indahnya agama yang aku anut ini, ya Tuhan terimakasih karena aku terlahir dari keluarga muslim, yang juga tidak fanatik terhadap agama lain. Aku berpikir sejenak lalu  berkata pada diriku sendiri,  “Tuhan, sesungguhnya semua agama itu baik adanya, semua mengajarkan tentang kebajikan, dan Engkau pasti tau itu” aku tersenyum dan kembali berteriak “ayo..ayo yang mau dilukis!!!” sambil sesekali menyendokkan nasi uduk buatan ibuku ke mulutku.
Keras kepala. Ya..mungkin itulah sederet kata yang pantas aku sandang. Ayahku adalah seorang seniman lukis yang cukup terkenal di kotaku Jogjakarta, sementara ibuku adalah seorang bidan desa. Aku ke Jakarta pada usia 18 tahun. Selepas SMA, aku langsung dikirim ke Jakarta dan diam-diam mengambil jurusan seni rupa. Aku malas kalau harus mendengar omongan orang mengenai aku si anak yang di doktrin si ayah yang juga berdarah seniman, memang pada kenyataannya aku memilih seni rupa karena aku memang suka melukis, bukan karena doktrinan dari ayahku, sama sekali bukan!.
Setelah menunggu seharian, akhirnya ada seorang anak kecil berdiri sambil melototi lukisankku.
tapi, eh..ekspresinya ko gitu? Ko gitu pemirsa?
“Kevin, Kevin!!” teriak si Ibu.
“Maaf ya mba” lanjut si ibu tadi sambil tersenyum padaku.
Aku balas tersenyum.
“Ayo Kevin” katanya sambil menarik tangan anak kecil itu.
Tapi anak kecil itu malah berteriak dan menangis, sambil menunjuk lukisanku.
“Kevin, kita cari yang lain ok” kata mamanya.
Si anak malah berteriak histeris. Aku langsung memberikan lukisanku itu padanya.
“Ini buat kamu Kevin, udah ya jangan nangis” kataku sambil mengusap rambutnya.
Tak berapa lama tangisnya berhenti dan ia langsung tersenyum pada ku, senyum yang ah..amboy rasanya.
Duh, bocah cilik ini masih kecil saja sudah tahu lukisan karya seniman handal, kalau sudah besar nanti, kamu aku gebet bisa-bisa hihii (dasar pedofil), bisikku dalam hati.
“Maaf mba, aduh maaf banget, berapa harga lukisannya?” tanya si ibu.
”Ga usah bu, aku ngasih itu cuma-cuma” kataku kembali tersenyum.
“Hebat kamu, masih kecil juga udah jago milih lukisan yang bagus” lanjutku sambil mengedip pada anak itu.
“Yaudah mba, saya buru-buru, makasih banyak mba cantik” kata si ibu yang usianya kurang lebih 36an.
“Oke, sampai ketemu lagi Kevin” kataku mulai genit.
***
Seminggu sudah aku menyandang profesi sebagai pengamen lukis. Ah..setidaknya itu lebih baik dari pada sebutan sarjana nganggur. Mungkin mudah saja bagiku untuk bekerja di galeri milik ayah, tapi sori de mori yah! Aku tegaskan sekali lagi, aku bukanlah tipikal orang yang hanya mengandalakan ketenaran ayah, aku benci menjadi seseorang yang hanya menjual nama ayah, aku ingin merasakan yang namanya kristalisasi keringat (kata pakde Tukul Arwana), maksudnya adalah bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang memuaskan kita harus basah kuyup oleh yang namanya keringat, merasakan yang namanya kelelahan dari kerja keras, bahkan sampai keringat itu sendiri mengkristal (lebay ya).
*semakin kamu berdarah-darah mengerjakan sesuatu, maka klimaks yang kamu dapat akan semakin indah.
Yah untunglah ada satu dua orang yang mampir untuk sekedar bertanya dan ada juga sih yang membeli lukisanku. Em..memang si dengan tampang yang seperti mengasihaniku, tapi tak apalah, yang penting laku. Malamnya saat aku hendak pergi menjemput ayahku di galeri, tiba-tiba saja hanphoneku berdering.
“Halo” sapaku pada nomer asing yang tertera di layar ponselku.
“Halo mba cantik, ini mamanya Kevin. mba cantik besok ada waktu ga mba?” tanya si ibu itu.
“Oh..ibu, iya bu ada ko bu” kataku polos.
“Ok, besok jam 9 pagi aku tunggu di tempat lukisan itu, ada yang mau aku omongin, bisa kan mba?” tanyanya lagi sopan.
Aku mengiyakan dan lantas menutup hanphoneku.
Ada apa ya? ada perlu apa? ada urusan apa ya? ah..sederet pertanyaan tadi tiba-tiba mengepung kepalaku. Semoga saja bukan kabar yang tidak enak, ya Tuhan… semoga saja itu berita baik.
***
“Gimana?” tanya ibunya Kevin.
“Ya ampun bu, ini beneran kan? ini bukan mimpi kan?” kejutku tak percaya.
“Iya sayang, ini bukan mimpi. Ini nyata, kamu itu emang bakat ngelukis ko” kata si ibu itu meyakinkan ku.
“Ya Tuhan, nggak kepikiran, makasih bu” teriakku girang sambil mencium tangan mamanya Kevin..
Inilah waktunya aku memamerkan pada ayah dan ibu, kalau anaknya ini memang berbakat heuheu. Berita tadi adalah kabar gembira, aku diterima di sebuah galeri yang ada di Jakarta, dam pemilik dari galeri tersebut tidak lain adalah omnya Kevin. Beliau terkesan melihat lukisan yang di tempel di dinding kamar Kevin, untung saja aku menaruhkan nama dan nomor hanphoneku di belakang lukisanku itu.
Aku berangkat ke Jakarta (lagi), semenjak 6 bulan yang lalu, seusai wisuda aku langsung pulang ke Jogja, dan tak pernah kembali lagi ke Jakarta. Aku juga di ajak kerumah mamanya Kevin, disana aku di kenalkan dengan papanya Kevin dan tentu saja omnya yang juga pemilik dari galeri tersebut. Mamanya Kevin baik banget, aku diajak muter-muter nyari kontrakan yang dekat dengan galeri yang akan menjadi tempat kerjaku nanti.
Dan sejak aku bekerja disana, aku jadi dekat sekali dengan Kevin.
“Kevin, aku bawa martabak!” aku berteriak.
Kevin langsung lari dari dalam kamar dan memelukku dengan erat.
“Mas Kevin, ayo pake sepatunya!” teriak bi Anah yang bertugas mengurus Kevin saat mama dan papanya pergi kerja.
Kevin malah berhambur kearahku dan bersembunyi di belakangku sambil memelukku dari belakang dan berteriak “hahhhaahhhmlamlamlamamala!!!!” entahlah ia berkata apa, aku pun juga tak mengerti, tak ada yang mengerti dengan bahasa yang dikatakan Kevin, ia membunyai bahasa sendiri, ia lain dari bocah lainnya, ia unik.
Kevin Hendarso, adalah seorang anak lelaki usia 10 tahun. dia adalah anak tunggal, usia sepertinya harusnya sudah bisa berbicara lancar dan berlari kesana kemari mengejar layangan. Tapi, ia terlahir autis, bicaranya tak selancar anak seusianya, daya tahan tubuhnya juga tak sekuat anak normal lainnya. Harusnya hari ini ia bersekolah, kesekolah luar biasa yang bonafit di Jakarata, namun entahlah, sepertinya Kevin tak suka dengan sekolahnya.
“Udah bi, biar aku aja yang bujuk” sahutku.
“Mba Gina, tolong bujuk mas kevin ya, ntar dia di marahin sama mamanya kalau bolos lagi” pinta bi Anah.
“Iya” jawabku sambil tersenyum.
***
“Kevin, kamu mau ke sekolah?” tanyaku hati-hati pada Kevin.
Kevin langsung menggeleng cepat sekali.
“Mau belajar sama aku di sini?” tanyaku lagi.
Kevin mengangguk girang.
“Oke, Kevin aku punya beberapa pertanyaan buat kamu. Tapi kamu jawab pake mulut, aku ga mau liat kamu ngangguk atau geleng lagi, kalau aku ga ngerti baru kamu boleh tulis. oke?” pintaku lembut.
“Yhaaayaya” jawab Kevin sambil tersenyum dan terus saja mengangguk.
“Kevin, pelajaran apa yang kamu suka?” aku memulai pertanyaan.
“Gam..gambhhaalllbaba” katanya berusaha menjawab dengan susah payah sambil menggerak-gerakkan tangannya memberi kode sesuai dengan ucapannya.
“Gambar, wah..sama kaya aku dong Kevin, gambar apa yang kamu suka?” lanjutku.
“Phemmmaphehhemmamm” katanya lagi berusaha keras membuat aku mengerti ucapannya.
Aku berusaha menerka-menerka “Perempuan?” “Perahu?” “Pe..pemandangan!!” ya aku terus saja menerka berusaha untuk membuatnya tak merasa jenuh untuk berbicara, meski perlu kesabaran untuk memahami maksud ucapannya.
“O..pemandangan. Oke, warna apa yang kamu suka?”
“Hiiiiijahjjjijjjaaa” katanya sulit sekali.
“Hijau! ah…Kevin kita sehati, lagi-lagi kita punya kesamaan” teriakku sambil geleng-geleng.
Kevin tergelak sambil menjambak rambutku pelan, aku pun akhirnya ikut tergelak.
“Oke Kevin, aku mau buatin kamu gambar pemandangan yang super bagus, tapi kamu bantu aku mewarnai ya?” pintaku.
“Yahhanaan” angguknya girang.
“Selesai yeayyyy!!!!!” hasilnya bagus banget Kevin, okeee inilah dia lukisan pemandangan karya Kevin Hendarso!!!!!” teriakku girang.
Kevin hanya tersenyum tipis, kali ini ia seperti tidak senang, ia langsung berlari kekamarnya dan mengunci pintu.
“Kevin, kenapa?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamarnya, merasa ada yang salah dengan ucapanku.
Kevin hanya menangis keras dan tak menjawab.
Sejak hari itu, Kevin di marahi oleh ibunya gara-gara bolos sekolah. Ah..aku merasa akulah penyebab dari semua itu, aku ini orang macam apa? harusnya aku tak membiarkan ini terjadi, harusnya, ah..Kevin apa dia marah sekali sampai sudah seminggu lebih tak mau bicara dengan siapapun.
***
Aku mulai tidak konsen bekerja, pikiranku mulai meracau kemana-mana. Kevin, Kevin dan Kevin. Yang ada di otakku semuanya meributkan satu orang, satu bocah lebih tepatnya. Ah..entahlah, sepertinya kalau kepalaku pecah semua isinya adalah  nama Kevin .
Aku memutuskan untuk meminta cuti pada om Garda, aku minta cuti satu minggu. Dalam waktu satu minggu itu, aku pakai untuk pulang kerumah ayah dan ibu. Setibanya disana, aku langsung berhambur di pelukan ibu, dan menceritakan semuanya, tentang rasa bersalahku yang sangat dalam pada Kevin. ibu hanya membelai rambutku dan berkata, “marah tidak ada sebabnya, menangis tidak ada sebabnya, tertawa tidak ada sebabnya, itulah anak kecil Gina. Tapi satu hal, mereka selalu tau hati mana yang menggetarkan ketulusan dan hati mana yang menggetarkan kepura-puraan”  ah..rasanya tenang sekali  mendengar ucapan ibu tadi.
Setelah hampir seminggu aku kembali bekerja, tiba-tiba saja mamanya Kevin datang ke kantor om Garda, dan menemuiku.
“Ada apa bu?” tanya ku hati-hati.
“Besok sekolahan Kevin ada lomba melukis, aku mau kamu datang Gina, bisa kan?” pinta ibunya Kevin dengan sedikit memohon.
***
Aku datang ke acara Kevin, aku sempatkan untuk membeli gaun dulu sepulang kerja tadi. Dengan rambut yang sengaja aku kepang dan ah ya, aku sengaja memilih gaun warna kesukaanku dan juga kesukaan Kevin, hijau… ya warna favorit kami. Aku sengaja datang setengah jam lebih awal, karena aku tak ingin duduk di belakang dan tak bisa melihat dengan jelas momen berharga dimana Kevinku melukis. Mamanya terkejut melihat aku sudah duduk manis di barisan paling depan, lalu ia pun duduk di sampingku. Ia tersenyum sambil mengusap lembut pudakku, aku balas tersenyum padanya.
 “Kamu cantik banget Gina” bisik mamanya Kevin.
Aku hanya tersenyum, entahlah.. rasanya gugup sekali, ini melebihi gugupnya saat kencan pertamaku dengan Andre waktu SMA dulu. Aku melihat Kevin memakai jas putih rapih sekali, ia tersenyum senang sekali di atas panggung itu, dan aku seperti melihat malaikat kecil di sana, seorang malaikat yang meskipun tak bersayap, tapi ia punya hati yang suci. Tak terasa aku mulai meneteskan air mata dan berbisik, “Tuhan.. terimakasih telah mempertemukanku dengan malaikat kecil ini, terimakasih telah mengijinkan malaikat kecil ini mampir dalam hidupku. terimakasih banyak Tuhan”.
“Kamu nangis sayang” tanya mamanya Kevin ketika melihatku.
Aku langsung repleks menyeka air mataku dan tersenyum padanya.
“Aku bangga sama Kevin bu” kataku dan mulai lagi menetes air mata.
“Aku juga bangga punya Kevin sayang, kevin punya banyak orang yang sayang sama dia, salah satunya kamu sayang” mamanya lirih, sambil kembali menyeka air mataku.
“Udah, jangan nangis cantik, ntar Kevin marah liat make up kamu luntur” lanjutnya.
Aku langsung tersenyum mendengar ucapan itu, aku bahagiaaaa sekali Tuhan, terimakasih.
Kevin terpilih sebagai juara runner up, saat seorang juri membacakan acara penutup, tiba-tiba Kevin naik keatas panggung dan menyerahkan sebuah kertas pada gurunya yang juga sekaligus sebagai host acara itu.
“Maaf semuanya, sebelum keacara terakhir, sepertinya ada sebuah tulisan yang ingin saya bacakan untuk seseorang, ok tanpa panjang lebar, aku bacakan saja tulisan dari salah satu muridku ini.”
Tuhan,
aku tahu aku tak bisa bicara lancar
semua orang berkata “apa?” saat mendengar aku bicara.
semua orang menyuruhku mengulang perkataan ku sampai puluhan kali
semua orang kesal mendengar bahasaku yang aneh
semua orang menyuruhku bisu, padahal aku bisa bicara, walau tidak jelas
semua orang tak suka kalau aku berisik
semua orang sebal melihat tingkah ku yang aneh
semua orang bilang aku useless
aku menangis terus dan terus
aku mulai lelah, “Tuhan, kenapa aku di lahirkan seperti ini sih?”
tapi  tidak ada yang menjawab.
mama bilang bicaralah pada Tuhan, katanya Dia tau bahasaku
lalu Tuhan Bilang kalau aku itu malaikat, dan hanya dengan malaikat pulalah aku berteman, kata-Nya.
sampai suatu saat, aku bertemu dengan GINA.
dia mengerti bahasaku, dia tersenyum melihatku, dan dia cantik
lalu tiba-tiba Tuhan berbisik padaku,
“Kevin, dialah temanmu, dia sama seperti mu, dia malaikat juga!”
aku melihatnya, melihat sayapnya, dan aku sadar dia memang temanku.
ya..dia memang malaikat, malaikat tercantik yang Tuhan kirim untukku.
karya => Kevin Hendarso.
Aku tak sanggup lagi menahan tangis, aku speechless.
“Yang bernama Gina, saya harap segera naik keatas panggung”
Semua orang kini saling memasang mata mencari-cari si pemilik nama itu, sementara aku menengok kearah mamanya Kevin, lalu ia tersenyum dan mengangguk mengijinkan ku untuk maju keatas panggung itu. Dengan persaan gugup aku langsung berdiri dengn diikuti ratusan pasang mata yang memperhatikan segala gerak gerikku kala itu.
“Aku Speechless, jujur aku..akuuuu” aku tak bisa melanjutkan kata-kataku karena tiba-tiba tangisku pecah.
“Semua yang ada disini, anda semua baru saja mendengar puisi dari malaikat kecil bernama Kevin” lanjutku yang disambung tangis lagi.
Kini semua orang berdiri dan memberikan tepukan yang luar biasa meriah sekali. Tiba-tiba Kevin berlari dan berhambur kedalam pelukanku, aku langsung memeluknya eraaaat.
*Tuhan, aku pernah memeluk malaikat dan aku takan lupa itu. Terima kasih….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar