Pengikut

Sabtu, 15 Juni 2013

ART




TRADITIONAL TATTOO
Gue yakin diantara kalian ada yang demen banget ama tato, hayo ngaku? Entah itu tato modern, yang make alat-alat yang canggih import dari luar, atau tato tradisional yang make alat tradisional kaya di suku-suku pedalaman gitu deh, atau mungkin juga tato alami. Cie…. tato alami.
Tato alami adalah sejenis tato yang datang tak diundang (bukan jalangkung loh). Nah, tato ini tuh sejenis tato yang suka ga suka lu kudu nerima ditato begituan, dan kadang-kadang bentuknya juga kagak beraturan cuy, alakadarnya, tapi ada juga sih yang keren kaya punya temen gue tato alaminya gambar kelewar tanpa sayap yang edan keren gila, sampe ga bisa berkata-kata. Udah deh, terima aja, itu tato alami, toh juga akibat dari ulah lu sendiri yang jadwal mandinya seminggu sekali. CIEEEE senyum-senyum sekarang, udah ngarti maksud dari kata tato alami atau kalo bahasa bekennya THE NATURE OF TATTOO.
The nature of tattoo or P A N U itu biasanya muncul karena adanya keringat yang berlebih pada permukaan kulit dan dibiarkan mengendap berhari-hari tanpa dibersihkan (udah kaya iklan deodoran aja tuh kata-katanya), bodo ah….
 EH CUT CUT CUUUT!!!!!
 GUE GA MAU BAHAS BEGITUAN (PAN*U) KALI, SALAH- SALAH, ULANG-ULANG…… CAMERA?>>>>>>
ROLLING?>>>>>>
 ACTION>>>>>>>
#Oke fokus ke tato tradisional ya#
 Kita kenalan dulu yuk sama si tato. Apa itu tato…..? Kata “tato” berasal dari kata Tahitian / Tatu, yang memilki arti : menandakan sesuatu. Rajah atau tato (Bahasa Inggris: tattoo) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Dalam istilah teknis, rajah adalah implantasi pigmen mikro. Rajah dapat dibuat terhadap kulit manusia atau hewan. Rajah pada manusia adalah suatu bentuk modifikasi tubuh, sementara rajah pada hewan umumnya digunakan sebagai identifikasi. Rajah merupakan praktik yang ditemukan hampir di semua tempat dengan fungsi sesuai dengan adat setempat. Rajah dahulu sering dipakai oleh kalangan suku-suku terasing di suatu wilayah di dunia sebagai penandaan wilayah, derajat, pangkat, bahkan menandakan kesehatan seseorang. Rajah digunakan secara luas oleh orang-orang Polinesia, Filipina, Kalimantan, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Mesoamerika, Eropa, Jepang, Kamboja, serta Tiongkok. Walaupun pada beberapa kalangan rajah dianggap tabu, seni rajah tetap menjadi sesuatu yang populer di dunia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tato berarti gambar (lukisan) pada bagian (anggota) tubuh.
Nah buat kalian yang demen nato badan (body painting), menurut kalian enakan mana sih, tato tradisional atau tato modern (TATO ALAMI GA MASUK OPTION LOH YA)?

Seniman tato di Indonesia sangat banyak. Namun, adakah yang peduli dengan tato tradisional?

Dialah Aman Durga Sipatiti, penato tradisional Mentawai. Sosok pria kelahiran Yogyakarta, 5 Desember 1972 ini, sungguh unik. Dari atas kepala hingga jari-jari kakinya penuh dengan tato, belum lagi tambahan piercing di bibir dan kedua daun telinganya. Jebolan Institut Seni Rupa (ISI) Yogyakarta, yang belasan tahun melanglang buana di dunia desain grafis, ini memutuskan menjadi seorang tattoo artist sejati. “Ya, aku capek aja. Aku ingin skill tangan, drawing freehand itu jalan, jadi langsung banting setir. Semua pekerjaan ditinggal dan belajar tato secara total,” kilah pemilik nama asli Dionysius Bimo Desianto ini.
Berbekal tekad kuat, ia meninggalkan Jakarta, pergi ke Los Angeles, Amerika Serikat, untuk berguru kepada Sua Sulu’ape Freewind di studio tato Black Wave Tattoo, tempat ia belajar tribal dan tato tradisional. Awalnya, ia melamar menjadi seorang apprenticeship. “Aku diberi kesempatan nyantri, mulai dari kebersihan, terima telepon, me-manage studio, memasarkan studio, kontak relasi, jadi asisten tattoo artist, bahkan bersihin WC. Dimaki-maki dan jadi bahan becandaan tattoo artist sudah jadi hal biasa.” 
Luar biasa ya, perjuangannya...
Sekembalinya dari negeri cowboy, pada 2009 ia membuka Durga Tattoo. Ia menyelidiki beragam tato tradisional Indonesia. Nama Durga, yang kini menjadi merek dagang dirinya diambil dari Dewi Durga. Aman (bapak) dan Sipatiti (pembuat tato), diambil dari bahasa Mentawai.
Gue pernah ngeliat cuy di salah satu stasiun tv yang kebeneran banget lagi nayangin tentang tato tradisional. Gila parah keren abis cuy, dan gue keingetan terus sama kata-kata si pembuat tato tradisional Aman Durja Sipatiti “turis-turis manca berbondong-bondong datang demi tato tradisional Indonesia yang katanya very artistic, sementara orang pribuminya sendiri malah make tato modern”. Gue ga habis pikir aja, kok biisa si? Itu cuma dari segi tato loh, belum yang lainnya guys. Prihatin emang, orang lain berkata bahwa bangsa kita ini indah, tapi kita sendiri malah berkata rumput tetangga lebih hijau cuy, kampret ga tuh?.
 Oke, sebelum berbicara kearah yang lebih jauh mengenai tato, kita intip dulu yuk asal usul tato tardisional. Keberadaan merajah tubuh di dalam kebudayaan dunia sudah sangat lama ada dan dapat dijumpai di seluruh sudut dunia. Menurut sejarah, ternyata rajah tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM (sebelum Masehi). Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Dan konon hal itu dianggap yang menjadikan tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satunya suku Indian di Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, lalu berkembang ke seluruh suku-suku dunia salah satunya suku Dayak di Kalimantan. Tato dibuat sebagai suatu symbol atau penanda, dapat memberikan suatu kebanggaan tersendiri bagi si empunya dan simbol keberanian dari si pemilik tato. Sejak masa pertama tato dibuat juga memiliki tujuan demikian. Tato dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri.

ATTENTION! Buat lu yang pengen nyobain body painting (nato badan), gue saranin lebih baik lu pikirin mateng-mateng sebelum lu nyesel seumur hidup ntar. Guys, kalo alesannya cuma biar keliatan gaul atau ikut-ikutan temen gue saranin JANGAN.
Lebih dari 75 % pemuda yang bertato di luar negeri, merasa menyesal karena telah menato tubuhnya. Dengan alasan sukar mendapatkan pekerjaan. Nah, gimana? pikirin dulu ya kalau mau tatoan.
Tattoo is art, yes I agree. Dan gue juga sangat amat ga setuju orang ngejudge buruk orang lain lewat tato, ITS NOT FAIR U KNOW. Sebuah indikatornya/patokannya orang (sori) bod*oh.

 Tato adalah bagian dari warisan seni dan budaya dunia. Saat ini pun tato telah menjadi industri miliaran dolar yang terus berkembang, hal ini harus dihormati dan diakui sebagai bentuk akar seni. Untuk menjelaskan tentang hasil penelitiannya, para peneliti telah menerbitkan sebuah buku antropologi budaya, dengan foto-foto yang menampilkan kemampuan artistik individu dalam membuat bentuk tato yang rumit dengan tinta alami dan peralatan tradisional seperti duri dan tongkat bambu runcing.

Nah guys, kalian yang pengen tau teknik pembuatan tato yuuuk kita intip lagi. Ada berbagai cara dalam pembuatan tato. Ada yang menggunakan tulang binatang sebagai jarum seperti yang dapat dijumpai pada orang-orang Eskimo, Suku Dayak dengan duri pohon jeruk, dan ada pula yang menggunakan tembaga panas untuk mencetak gambar naga di kulit seperti yang dapat ditemui di Cina. Bukannya tidak sakit dalam proses membuat tato. Sebenarnya rasa sakit pasti dialami ketika membuat tato di tubuh, namun karena nilai yang tinggi dari tato, dan harga diri yang didapatkan, maka rasa sakit itu tidak dianggap masalah.
Ada berbagai jenis dan ragam bentuk tato, tergantung dengan apa yang dipercaya oleh suku-suku bersangkutan, dan di setiap daerah umumnya memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang tato, meski pada prinsipnya hampir sama.

 Nah.. itu tadi guys info-info tentang tato tradisional, yang semoga banget bisa bermanpaat buat diri gue juga buat kalian (semoga ya), yuk sama sama teriak AMIIIIIIIII…..N!!!!!!!!!! dan inget yah, jangan nakal, jangan tato sembarangan, jangan apa????? yak betul.. JANGAN PIPIS SEMBARANGAN! #ehlahdalah…..

1 komentar: